Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Wanita Jepang nyawèr pengantin dan terjadi kerusuhan

Wanita asal Jepang melempar sawèran, puncak kerusuhan di menit ke 1.20, seorang anak teriak-nangis terhimpit massa, terjadi pula kecurangan.

Wanita Jepang
Entah siapa namanya, tapi Ia asli berasal dari Jepang. Menikah dengan seorang Indonesia yang asli dari Lampung.

Hadir dalam nikahan Pagit, gadis Cianjur yang menikah dengan seorang jejaka Cirebon. Keduanya bekerja di Negeri Sakura, bertemu dan menikah.

Wanita Jepang ini dengan baju khas tradisional kimono, tampak wara-wiri dengan suka-cita di tengah-tengah riuhnya resepsi pernikahan Pagit. Saat Pagit jadi "Ratu dalam sehari", sebagai pengantin wanita. Maka Si Wanita Jepang ini jadi "Seleb dalam sehari". Kenapa?

Karena di setiap detik, ada saja orang yang pengen ber-selfie dengannya. Ia pun tampak senang melayaninya. Senyumnya tak henti-henti tersimpul, keramahannya seolah mengalahkan masyarakat negeri yang pernah dijajah oleh negerinya dahulu.

Prosesi Sawèr Pangantèn
Teramat menikamati acara akad dan resepsi pernikahan ala Indonesia, ala adat Sunda tepatnya. Itulah kesan yang saya tangkap jika melihat mimik itu si wanita jepang tersebut.


Saat prosesi sawer panganten, Ia bahkan ngambil peran pelempar sawer. Lumayan menarik jika kita sebut ini sebagai gimmick.

Duit sawerannya lain dari biasa. Biasanya kan duit receh koin, kali ini mah isinya ada 50.000-an hingga 100.000-an. Mulai ketebak kan kenapa bakal ada kerusuhan?

Teriakan anak yang misterius
Ditenggarai adalah Jaka bin Enjang yang terlibat di tengah kerusuhan perebutan duit sawer, yang kemudian berebut-berdesakan. Dari video hanya bisa kita dengar suaranya saja, tapi dari keterangam ibu dan bibinya, dipastikan itu adalah teriakan Jaka.


Seakan berebut sembako di saat terjadi kelaparan masal, prosesi saweran terkesan brutal. Tapi ya, penuh kesenangan dan kegembiraan. Itulah uniknya budaya kita, yang belum tentu bisa kita rasakan di Jepang atau di negeri lainnya.


Kecurangan
Didapati Jaka bin Enjang menangis histeris, karena terhimpit saat berebut sawer. Kepedihannya ditambah pula dengan tidak didapatnya uang sawer yang dilempar begitu banyak, dengan nominalnya yang aduhai. Nya bagi budak mah teu penting nominal, asal meunang gè geus atoh.


Bak dewi turun dari khayangan, ateu èmot datang menenangkan Jaka bin Enjang. Ateu Èmot membawa segenggam uang 5.000-an hingga 50.000-an, menaruhnya ditangan Jaka sebagai uang saweran. Jaka senang dan lebih tenang. Tapi itu uang saweran Dewi Èmot dari mana ya? 